Dampak COVID-19 terhadap Emisi Global

Dampak COVID-19 terhadap Emisi Global

Bandung, Omicron Indonesia – Pandemi virus corona yang saat ini masih terus mengancam jutaan nyawa diseluruh dunia, sangat berdampak pada semua sektor, baik sektor ekonomi, sosial, budaya bahkan sektor pendidikan. Perlu Omicronians ketahui, ternyata dampak Covid-19 ini bukan hanya menyisakan tangis, luka dan kesengsaraan bagi bumi dan penghidupannya, tetapi jauh lebih dari itu, kita menyaksikan bumi kita merasakan “sehat” yang belum pernah terjadi sebelumnya. Sebuah tim peneliti internasional telah menemukan bahwa dalam enam bulan pertama tahun 2020 ini, emisi karbon dioksida 8,8 % lebih sedikit dibandingkan pada periode yang sama pada tahun 2019, hal ini berarti terjadi penurunan total sebesar 1551 juta ton.

Pada bulan April lalu adalah masa puncak gelombang pertama infeksi Corona yang mengancam masyarakat dunia, ketika sebagian besar negara besar melakukan lockdown atau menutup kehidupan publik emisi bahkan turun 16,9% dalam jangka yang cukup panjang. Secara keseluruhan, adanya wabah ini mengakibatkan penurunan emisi yang biasanya terjadi dalam jangka pendek misalnya pada hari libur seperti Natal atau Festival Musim Semi di China.

Untuk melukiskan gambaran yang komprehensif dan multidimensi, para peneliti mengacu pada beragam data yang didapatkan seperti: kumpulan data produksi tenaga listrik per jam yang tepat di 31 negara, lalu lintas kendaraan harian di lebih dari 400 kota di seluruh dunia, penerbangan penumpang global harian, data produksi bulanan untuk industri di 62 negara serta data konsumsi bahan bakar untuk emisi bangunan di lebih dari 200 negara.

Baca Juga : Seluruh Dunia Akan Tersenyum Apabila Anda Juga Tersenyum!

Studi yang diterbitkan oleh Nature Communications,menunjukkan bagian dari ekonomi global yang paling berpengaruh, dimana terjadi pengurangan emisi terbesar diamati di sektor transportasi darat. Hal ini sebagian besar karena adanya pembatasan bekera dari rumah (Work from Home) sehingga orang tidak keluar rumah dan tidak menggunakan kendaraan umum maupun kendaraan pribadi. Sehingga emisi CO2 pada transportasi menurun hingga 40% di seluruh dunia.

Namun, pada sektor listrik dan industri hanya menyumbang lebih sedikit terhadap penurunan emisi ini, dengan masing-masing sekitar -22% dan -17%. Anehnya lagi bahan sektor perumahan pun mengalamai penurunan emisi kecil sebesar 3% disebabkan karena sebagian besar adanya musim dingin yang hangat dan tidak normal dibelahan bumi utara, konsumsi energi pemanas menurun dengan kebanyakan orang tinggal di rumah sepanjang hari selama periode lockdown.

Para peneliti juga menemukan efek rebound yang kuat dimana terjadi penurunan emisi yang berasal dari sektor transportasi pada Juli 2020, Tetapi setelah tindakan lockdown ini dicabut, sebagian besar negara kembali ke tingkat emisi CO2 yang biasa. Untuk itu diperlukan langkah-langkah mendasar apa yang dapat diambil untuk menstabilkan iklim global setelah pandemi.

Langkah-langkah yang perlu diambil untuk menstabilkan iklim yaitu perlu adanya perombakan total pada sektor industri dan perdagangan. Meskipun penurunan CO2 belum pernah terjadi sebelumnya, penurunan aktivitas manusia tidak bisa menjadi jawaban dan aktifitas manusia tidak bisa dihentikan karena untuk kehidupan dan menghidupi. Untuk itu yang dibutuhkan adalah perlu adanya perubahan struktural dan transformasional dalam sistem produksi maupun konsumsi, sehingga perlu difokuskan juga bagaimana cara mengurangi intensitas karbon dalam ekonomi global dalam kehidupan mastarakat.

 

 

Penulis : Siti Salamah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *