Data COVID-19 di Indonesia Hoax? Konspirasi?

Data COVID-19 di Indonesia Hoax? Konspirasi?

Bandung, Omicron Indonesia – Pandemik COVID-19 yang sudah lebih dari satu semester melanda Indonesia, terus memberikan dampak buruk. Salah satu dampak buruk yang terus menghantui Indonesia adalah jumlah pasien COVID-19 yang terus meningkat setiap waktunya. konspirasi

Dilansir oleh covid19.go.id bahwa per tanggal 23/09/2020, jumlah kasus positif COVID-19 di Indonesia telah mencapai 252.923 kasus terkonfirmasi. Kasus tersebut meningkat sekitar 4.070 kasus setiap harinya, yang tentunya sangat mengkahwatirkan bagi masyarakat Indonesia.

Mengapa Kasus Positif Terus Bertambah?

Faktor kedisiplinan serta kesadaran masyarakat Indonesia terkait bahaya COVID-19 yang masih minim, menjadi faktor utama melonjaknya kasus positif COVID-19 di Indonesia. Hal tersebut dibuktikan dengan masih banyaknya masyarakat yang tidak menaati aturan protokol kesehatan yang ditetapkan pemerintah.

Surabaya sebagai daerah dengan jumlah kasus positif COVID-19 terbanyak di Indonesia, masih mencatat angka pelanggaran protokol kesehatan yang cukup tinggi. Tercatat pada Minggu (20/09/2020), lebih dari 67.000 orang terjaring operasi yustisi yang dilaksanakan oleh Polri, TNI, dan Satpol PP.

Beberapa pelanggaran yang sering dilakukan oleh masyarakat diantaranya adalah tidak menggunakan masker, serta berkendara melebihi kapasitas maksimum selama pandemik COVID-19. Operasi ini merupakan implementasi dari Instruksi Presiden (InPres) Nomor 6 tahun 2020 terkait penangan COVID-19 di Indonesia.

Data COVID-19 di Indonesia Tidak Valid? Konspirasi?

Terjadi fenomena unik di antara masyarakat dunia dan Indonesia selama pandemik COVID-19 berlangsung. Fenomena unik tersebut yaitu banyak dari masyarakat dunia dan Indonesia menganggap bahwa COVID-19 hanya konspirasi dan hoax semata. Bagi kaum yang mempercayai konsiprasi tersebut, menganggap bahwa data jumlah kasus positif COVID-19 di Indonesia adalah hoax dan dibuat-buat. Apakah Omiconians salah satu dari sebagian masyarakat Indonesia, yang mempercayai bahwa COVID-19 adalah konspirasi?

Sebenarnya anggapan bahwa data COVID-19 di Indonesia hanya konspirasi tidak sepenuhnya salah, karena pada faktanya memang data COVID-19 yang selama ini kita lihat belum dapat dipercaya seutuhnya. Hal tersebut karena Indonesia belum bisa memenuhi standar WHO dalam hal penangan COVID-19 dengan baik dan benar.

Baca Juga : Karbon Unsur Kecil, Penopang Hidup Manusia!

Kasus COVID-19 yang terus melonjak setiap harinya, menempatkan Indonesia dalam peringkat atas Negara dengan positivity rate tertinggi di dunia yaitu 19%. Angka tersebut sangat jauh dari batas aman yang ditetapkan WHO, yaitu sebesar 5%. Selain itu jumlah testing PCR yang dilakukan Indonesia, per harinya masih jauh dari standar yang ditetapkan WHO.

Walaupun pada awal bulan September lalu, angka 15.000 test per-hari yang ditetapkan Presiden Jokowi dapat terpenuhi. Tetapi angka tersebut masih jauh dari ambang minimum yang ditetapkan WHO, yaitu sebesar 38.000 test per hari.

Indonesia Termasuk Negara Dengan Penanganan COVID-19 Terburuk!

Indonesia juga masuk kedalam salah satu Negara, dengan penanganan COVID-19 terburuk di ASEAN. Hal tersebut dapat dilihat dari perbandingan jumlah test PCR per harinya, antara Indonesia dengan Negara lainnya di ASEAN. Sebut saja Filipina, yang selama ini selalu mencatatkan lebih dari 3000 penambahan kasus positif setiap harinya. Untuk menemukan kasus tersebut, Filipina melaksanakan test lebih dari 30.000 test setiap harinya.

Sekarang Omicronians bisa membayangkan? Jika Indonesia yang masih menjalankan test 15.000 orang setiap harinya, mampu menemukan 4000 lebih kasus baru setiap harinya. Berapa jumlah orang yang tidak terdeteksi positif COVID-19, akibat tidak mendapatkan test yang layak?

Masih mau keluar rumah tidak pakai masker? Atau masih mau memaksakan diri liburan ke tempat wisata ditengah pandemik COVID-19? Semua pilihan ada ditangan Omicronians.

 

Editor : Tsania Nurhayati Karunia Dewi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *