Diantara Kekebalan Tubuh dan Hubungan Interpersonal, Ada Interaksi 2 Arah?

Diantara Kekebalan Tubuh dan Hubungan Interpersonal, Ada Interaksi 2 Arah?

Bandung, Omicron Indonesia – Lebih dari dua caturwulan, sejak eksisnya virus  corona di mancanegara hingga tanah air, headline mengenai kekebalan tubuh juga semakin meningkat di segala faset kehidupan. Pembahasan mengenai kekebalan tubuh ini berhasil merenggut perhatian banyak kalangan, seperti para politisi, penyedia layanan kesehatan, pemilik bisnis, dsb. Salah satu variabel kerentanan terinfeksi COVID-19 tersebut juga tak jarang menjadi topik diskusi bersama sahabat, keluarga, dan kolega Omicronians, bukan? Namun, lebih dari sekedar koneksinya dengan SARS-CoV-2, kekebalan tubuh juga sering disangkutpautkan dengan suasana hati (tingkat stres), pengambilan keputusan, dan gaya hidup sehat, juga ada yang lebih mengejutkan, yaitu interaksi interpersonal.

Psikologi Hubungan Interpersonal

Menurut psychology.iresearchnet.com, sebuah situs yang concern membahas mengenai psikologi, hubungan interpersonal terjadi antara dua partisipan atau lebih yang saling bergantung. Hubungan ini memungkinkan sikap dari masing-masing partisipan dapat mempengaruhi dan berkaitan satu sama lain. Hubungan ini pula menjadikan seorang individu memiliki level kedekatan dengan orang lain, yaitu intim dan dekat seperti yang terjadi pada orang tua, pasangan, teman,  atau tidak sama sekali.

Baca Juga : Waspada Kecanduan Ponsel, NOMOPHOBIA!

Dilansir dari Psychology Today, Penelitian terbaru menunjukkan bahwa Inflamasi yang meningkat menyebabkan penghilangan sosial dan menumbuhkan rasa keterputusan sosial. Inflamasi disini menunjukkan suatu keadaan tubuh yang menginformasikan pada sistem kekebalan agar segera  memproduksi zat kimia untuk melawan infeksi atau cedera. Kondisi tersebut juga dapat terjadi ketika seseorang mengalami stres psikologis atau sosial, hal ini dikutip dari The Conversation. Penelitian seperti ini menjelaskan kemungkinan pengaruh dari kekebalan yang tidak seimbang ke hubungan yang buruk.

Keterlibatan Dopamin Dengan Interaksi Sosial

Mekanisme  yang menghubungkan kekebalan dan interaksi sosial mungkin melibatkan dopamin, neurotransmitter yang diketahui memainkan peran utama dalam membentuk sebuah perilaku. Penelitian yang dilakukan pada hewan menunjukkan bahwa pensinyalan dopamin di otak memengaruhi pensinyalan kekebalan. Selain itu, inflamasi itu sendiri dapat merusak neuron dopamin.

Adapun, dalam menjalin hubungan yang sehat, seseorang membutuhkan empati. Dalam hal ini terdapat persilangan antara sistem kekebalan dan empati. Secara khusus, kekebalan tampaknya terkait dengan empati kognitif — kemampuan untuk melihat sesuatu dari sudut pandang orang lain. Hal ini ditunjukkan pada suatu makalah tahun 2019, di mana peningkatan kadar penanda inflamasi C-reaktif peptida memprediksi tingkat empati kognitif yang lebih rendah.

Dari beberapa penelitian tersebut, menunjukkan bahwa terdapat interaksi dua arah antara hubungan antar pribadi dan sistem kekebalan individu. Sistem kekebalan yang tidak seimbang, dan terutama keadaan inflamasi mampu memengaruhi fungsi otak, berkontribusi pada keadaan isolasi sosial serta keadaan mental lainnya yang dapat membahayakan interaksi seorang individu dengan orang lain. Demikian pula, kualitas hubungan seseorang dapat memengaruhi kesehatan sistem kekebalan tubuh.

Dalam konteks kehidupan, sudah saatnya Omicronians menyimpan atensi pada masalah kekebalan tubuh dan kesehatan hubungan dengan orang lain, tentu di samping intervensi umum yang lain seperti, diet sehat, tidur yang cukup, dan olahraga teratur. Sehubungan dengan kehidupan sosial kita, memahami nuansa kekebalan tubuh kita setidaknya memberi langkah  baru untuk mendekati perilaku, kognisi, emosi, hingga sampai pada suatu hubungan interpersonal.

 

 

Editor : Tegar Tri Sawali

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *