September 20, 2020

Omicron Indonesia

Aktual dan Terpercaya

Tidak Bisa Jauh Dari Ponsel? Waspada NOMOPHOBIA!

Tidak Bisa Jauh Dari Ponsel? Waspada NOMOPHOBIA!

Bandung, Omicron Indonesia –  Ponsel telah menjadi perangkat penunjang kebutuhan manusia setiap harinya. Teknologi dan fitur yang terus dikembangkan di dalam ponsel kian memberikan banyak manfaat manusia. Tak heran, bila saat ini ponsel menjadi device yang tidak terlupakan untuk dibawa kemana pun. Bahkan orang yang tertinggal ponsel sekalipun dapat merasakan kegelisahan dan kekhawatiran, karena sebagian dari proses komunikasi dengan koleganya bergantung pada ponsel mereka. nomophobia

Ketergantungan Manusia Terhadap Ponsel Pintar

Dilansir dari Kompas.com pada 28 Maret 2019, Fita Maulani yang merupakan Sekretaris Jenderal Asosiasi Internet of Things Indonesia Digital Society, menyebutkan bahwa melalui Riset International Data Corporation (IDC) di 2018 menunjukan 80 persen pengguna ponsel pintar mengecek layar ponsel dalam waktu lima menit setelah bangun.

Keberadaan internet juga menjadi faktor umum meningkatnya waktu penggunaan ponsel. Data olahan Asosiasi Pengguna Jasa dan Internet Indonesia (APJII) menunjukkan bahwa pengguna internet Indonesia terus bertambah selama tahun 2012-2018. Kemudian sejak jaringan 4G masuk ke Indonesia, tingkat penggunaan internet meningkat 8-10 persen per tahun.

Teknologi memang memberikan buaian kenyamanan bagi penggunanya. Namun, ancaman dari layar ponsel juga sekaligus kita dapatkan saat berlama-lama menggunakannya. Masalah kesehatan dan mental berpotensi muncul seiring melakukan dan mengulang aktivitas tersebut. Bijak dalam mengoperasikan ponsel menjadi kunci dalam problema ini.

Menggunakan Ponsel Pintar Sebaiknya Berapa Jam Sehari?

Fita mengucapkan bahwa terdapat sebuah studi yang mengatakan bahwa sebaiknya untuk usia 14 tahun kebawah tidak menggunakan ponsel lebih dari dua jam karena akan mengganggu gerak motorik dan kemampuan interaksi pada rentang usianya. Adapun untuk orang dewasa, penggunaan ponsel selama 8 jam per hari dengan wajar dirasa lebih baik dibandingkan menggunakan dalam 6 jam secara terus menerus.

Namun tentunya, tidak semua orang dapat terbiasa dalam menerapkan usaha bijak penggunaan ponsel ini. Beberapa orang merasa sering ketergantungan terhadap ponsel yang dimilikinya. Ponsel yang multifungsi misalnya sebagai alat belanja online, jam alarm, bank seluler, dsb, ini menjadi sorotan dan alasan utama seseorang tidak dapat berlama-lama tanpa ponsel. Ketergantungan yang berlebihan pada perangkat digital ini mungkin merupakan bentuk kecanduan perilaku.

Apakah Itu Nomophobia

Kondisi psikologi mengenai kecanduan ponsel ini disebut NOMOPHOBIA yang merupan kependekan dari “No Mobile Phone Phobia”. Istilah ini pertama kali diciptakan dalam penelitian 2008 yang ditugaskan oleh Kantor Pos Inggris. Fobia adalah jenis gangguan kecemasan yang ditandai dengan ketakutan irasional terhadap suatu objek atau situasi.

Baca Juga : Apa Sebenarnya Arti Lagu Tahu Bulat?

Nomophobia terjadi saat seseorag memiliki ketakutan saat terpisah dari konektivitas antara dirinya dan ponselnya. Dalam hal Ini juga termasuk tidak hanya kehilangan ponsel, terlupa, atau rusaknya ponsel, tetapi juga berada di luar kontak ponsel. Ketika seseorang kehilangan ponsel, ketika ponsel mereka kehabisan baterai, atau ketika mereka berada di daerah tanpa jangkauan seluler, tak jarang dapat menyebabkan perasaan stres dan kecemasan, atau bahkan perasaan takut dan panik.

Abhay Srivastava dan kedua kawan penelitiannya, dalam jurnal Family Medicine and Primary Care mengatakan bahwa sebuah studi dilakukan pada mahasiswa yang berada di layanan kesehatan, ditemukan bahwa dari 547 mahasiswa, 23% dinyatakan nomophobia dan 64% berisiko terkena nomophobia. Dan 77% dari mereka selalu mengecek ponselnya lebih dari 35 kali dalam sehari.

Gejala Umum Bagi Pengidap Nomophobia

Dilansir dari VeryWel Mind, walaupun nomofobia bukan diagnosis klinis, beberapa gejala yang umumnya diidentifikasi terkait dengan ketakutan ini termasuk:

  • Ketidakmampuan untuk mematikan ponsel
  • Terus-menerus memeriksa ponsel, apakah ada pesan, email, atau panggilan tak terjawab
  • Mengisi daya baterai ponsel meskipun hampir selalu terisi penuh
  • Membawa ponsel ke mana pun Anda pergi, bahkan ke kamar mandi
  • Pengecekan berulang kali untuk memastikan ponsel tidak hilang
  • Takut tanpa Wifi atau terhubung ke jaringan data seluler
  • Khawatir tentang hal-hal negatif yang terjadi dan tidak dapat meminta bantuan
  • Menekankan seseorang agar tidak terputus dari keberadaan atau identitas online-nya
  • Melewati kegiatan atau acara yang direncanakan untuk menghabiskan waktu di perangkat seluler

Gejala Fisik Bagi Nomophobia

Selain gejala emosional dan kognitif, seseorang juga mungkin mengalami gejala fisik. Orang-orang dengan nomophobia memiliki napas yang lebih cepat, detak jantung yang meningkat, lebih banyak berkeringat. Mereka mungkin juga mulai merasa lemah atau pusing. Pada kasus yang parah, gejala ketakutan ini dapat meningkat menjadi serangan panik.

Cara Mengatasi Nomophobia

Lalu, apakah nomophobia ini dapat ditanggulangi?  Jika Anda merasa terlalu banyak menghabiskan waktu dengan ponsel, ada beberapa hal yang dapat dilakukan untuk mengelola penggunaan ponsel  dengan lebih baik.

  1. Tetapkan batas

Tetapkan aturan untuk penggunaan perangkat pribadi. Ini mungkin berarti menghindari ponsel pada waktu-waktu tertentu dalam sehari, seperti saat makan atau sebelum tidur.

  1. Temukan keseimbangan

Penggunaan ponsel bisa serba mudah untuk menghindari kontak langsung dengan orang lain. Fokus untuk mendapatkan interaksi pribadi dengan orang lain setiap hari.

  1. Beristirahat sejenak

Mungkin sulit untuk menghentikan kebiasaan ponsel, tetapi memulai dari yang kecil dapat membuat transisi lebih mudah. Mulailah dengan melakukan hal-hal kecil seperti meninggalkan ponsel di ruangan lain saat makan atau saat terlibat dalam aktivitas lain.

  1. Temukan cara lain untuk mengisi waktu

Jika ternyata penggunakan ponsel dilakukan karena bosan, mencari aktivitas lain untuk mengalihkan perhatian dari ponsel menjadi kuncinya.

 

 

Editor : Tegar Tri Sawali