September 20, 2020

Omicron Indonesia

Aktual dan Terpercaya

Dibalik lagu “Tahu Bulat, Digoreng Dadakan 500-an”, Tepatkah Istilah Tahu Bulat Digunakan?

Dibalik lagu “Tahu Bulat, Digoreng Dadakan 500-an”, Tepatkah Istilah Tahu Bulat Digunakan?

Bandung, Omicron Indonesia – Tahu merupakan salah makanan yang sudah sangat familiar bagi masyarakat Indonesia. Makanan yang terbuat dari jenis olahan kedelai ini begitu di gandrungi oleh banyak orang dari berbagai kalangan. Selain rasanya yang nikmat, harga kudapan ini juga begitu terjangkau.

Dikutip dari Jurnal Pemberdayaan Lembaga Pengabdian Kepada Masyarakat UAD Yogyakarta, bahwa tahu berasal dari China. Tahu adalah kata serapan dari bahasa Hokkian, tauhu (hanyu pinyin: doufu) yang berarti “Kedelai yang difermentasi”. Di Jepang dikenal dengam nama tofu.

Asal Mula Tahu

Tahu pertama kali muncul di Tiongkok sejam zaman Dinasti Han, sekitar 2200 tahun yang lalu. Penemunya adalah Liu An yang merupakan seorang bangsawan, cucu Kaisar Han Gouzu yaitu Liu Bang, yang mendirikan Dinasti Han. Liu An adalah seorang filosof, penguasa dan ahli politik. Ia tertarik pada ilmu kimia dan meditasi tadiom. Para ahli sejarah berpendapat bahwa kemungkinan besar Liu An memadatkan tahu dengan nigari atau air laut sehingga menjadi kental seperti tahu saat ini. Melalui para perantau Cina, makanan ini dapat tersebar ke Asia Timur dan Asia Tenggara, hingga akhirnya menyebar keseluruh dunia.

Baca Juga : Benarkah Marah-Marah Dapat Menyebabkan Cepat Tua?

Kandungan Dibalik Makanan Olahan Kedelai

Dibalik sejarah tahu yang panjang, Rr. Bamandhita Rahma Setiaji serorang Ahli Gizi Universitas Indonesia menjelaskan bahwa  kandungan gizi dalam 100 gram tahu rata-rata memiliki; energi (80 kal), protein (10,9 gram), lemak (4,7 gram), karbohidrat (0,8 gram), serat (0,1 gram), kalsium (223 mg), natrium (2 mg) dan fosfor (183 mg).

Dalam dunia kuliner Indonesia, tahu sering ditemukan dalam berbagai olahan pelengkap pada hidangan, bahkan menjadi makanan khas suatu daerah itu sendiri, seperti; Tahu sumedang, Tahu Gejrot khas Cirebon, Tahu Tek-Tek khas Jawa Barat dan masih banyak lagi. Selain menjadi menu khas suatu daerah di Indonesia Tahu juga dapat menjadi olahan yang mudah dapat dilakukan dirumah bagi siapapun, seperti dapat diolah menjadi; Oreg Tahu, Sayur Tahu, Botok Tahu, Gehu dan sebagainya.

Jenis dan Pasokan Tahu di Indonesia

Dibalik keistewaan olahan dan sejarah tahu yang panjang, akhirnya di tahun 2010-an mulai muncul jenis tahu baru di Indonesia yang cukup membuat heboh dari berbagai kalangan, Tahu yang biasanya berbentuk kubus tetapi tahu ini alih-alih berbentuk bola atau yang dikenal dengan Tahu Bulat. Selain heboh oleh bentuk dari Tahunya, masyarakat juga di hebohkan oleh lagu khasnya yaitu “Tahu Bulat, 500-an, digoreng dadakan, gurih-gurih enyoyyyy”.

Salah satu pemasok tahu bulat terbesar di Indonesia adalah PT. Asian Nanjung Sejahtera yang terletak di Desa Muktisari, Kecamatan Cipaku, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat. Perusaan ini didirikan oleh Aan Targana. Dikutip dari laman web PT. Net Mediatama Indonesia, Doni Berkah yang merupakan seorang manajer PT. Asian Nanjung Sejahtera berujar,  “ PT ini didirikan pada tahun 2009 tetapi kalu jualan di mobil keling pertama kali di Cilacap kurang lebih tahun 2010 dan Alhamdulillah sampai saat ini. Penjuakan pakai mobil dan speaker, orang-orang lebih melihat ada keunikan lebih. Intinya untuk menarik para konsumen”.

Sudah Tepatkah Nama “Tahu Bulat”?

Bulat dalam KBBI berartikan berbentuk menyerupai bola. Dapat bulat itu mememili 3 dimensi, ada isi, massa atau volume pada setiap sisinya. Bulat, lingkaran dan bundar itu memiliki penjalasan yang berbeda. Lingkaran berbentuk 2 dimensi dikarenakan lingkaran merupakan satu garis utuh yang dihubungkan dari satu titik untuk bertemu ke titik awal secara melingkar. Selain itu lingkaran juga tidak mempunyai isi atau volume. Sedangkan bundar walaupun sama dengan bulat memiliki volume dan massa, tetapi berbentuk seperti benda cakram yang pipih seperti pada uang logam atau meja bundar seperti pada konfrensi tahun 1949 di Den Haag Belanda.

Jadi selama ini, menurut pengertian bahasa dan sudut pandang ilmu matematika, PT. Asian Nanjung Sejarah telah tepat memberi nama hasil kreasi Tahunya dengan nama Tahu Bulat, karena Tahu Bulat yang beredar saat ini memang memiliki bentuk 3 dimensi menyerupai bola karena memiliki massa atau volume dan isi, walaupun pada umumnya yang ditemui Tahu Bulat memilki isi yang kopong, bukan berongga apalagi pejal.

 

Editor : Tsania Nurhayati Karunia Dewi