September 20, 2020

Omicron Indonesia

Aktual dan Terpercaya

Optimis atau Pesimis, Manakah Yang Bisa Mengurangi Gangguan Insomnia?

Optimis atau Pesimis, Manakah Yang Bisa Mengurangi Gangguan Insomnia?

Bandung, Omicron Indonesia – Tidur merupakan salah satu cara untuk me-recharge energi dan mengatasi rasa lelah setelah seharian beraktivitas. Memiliki pola tidur yang ideal menjadi dambaan banyak orang, terutama orang dengan kegiatan yang padat. Namun, kesulitan tidur ancap kali  menjadi problema lumrah yang sering dihadapi masyarakat umum dan sering dikeluhkan. Menurut laporan tahun 2016 oleh Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit, sekitar 1 dari 3 orang dewasa AS gagal untuk mendapatkan tidur yang cukup, hal ini mampu meningkatkan risiko banyak penyakit kronis. optimis

Kesulitan  tidur atau sering dikenal dengan istilah “insomnia” bisa berupa sulit untuk memulai tidur, atau mengalami kegelisahan saat tidur. Dan ini dipengaruhi oleh banyak faktor, seperti banyak pikiran dan akibat mengonsumsi kopi dan alkohol. Akan tetapi, kesulitan tidur ini memiliki hubungan dengan pola pikir dan perilaku seseorang.

Pengertian Optimis dan Pesimis Dalam Mengurangi Gangguan Insomnia?

Optimisme dan pesimisme, dua sifat yang tertanam pada setiap orang ternyata mampu mempengaruhi kualitas tidur. Fakta ini merupakan temuan utama dari studi baru-baru ini yang dipimpin oleh Jakob Weitzer dan Eva Schernhammer dari Divisi Epidemiologi Universitas Kedokteran Wina, yang kini telah diterbitkan dalam Journal of Sleep Research. Penelitian ini juga melibatkan dua orang peneliti yang berfokus pada aktivitas tidur seseorang, yaitu Stefan Seidel dan Gerhard Klösch dari Departemen Neurologi, Universitas Kedokteran Wina.

Orang yang optimis cenderung memiliki keyakinan mengenai hal yang terjadi di masa depan atau rencana akan berjalan dengan baik dan menyenangkan. Sedangkan, orang pesimis lebih banyak mengalami kekhawatiran dan berpikir negatif atau tidak memiliki harapan baik terhadap suatu hal.

Dilansir dari Neuroscience News, orang optimis hidup lebih lama (kualitas hidup baik) dari pada orang pesimis dan memiliki risiko lebih rendah terhadap penyakit kronis. Fakta ini telah divalidasi secara ilmiah, seperti yang dilakukan oleh Weitzer dan kawan penelitinya. Kualitas hidup yang baik diraih oleh orang optimis karena memiliki aktivitas tidur yang baik.

Penelitian Terkait Gangguan Tidur

Penelitian mengenai hubungan tidur dengan sikap optimis ini dimulai dengan menganalisis data survei online 2017 tentang karakteristik tidur umum dan faktor-faktor lain seperti situasi kerja dan perilaku orang sebelum tidur, di mana 1.004 warga Austria berpartisipasi pada survei tersebut. Ahli epidemiologi Medical University of Vienna menemukan bahwa kemungkinan menderita gangguan tidur atau insomnia sekitar 70% lebih rendah dialami oleh partisipan yang  optimis dari pada mereka yang cenderung pesimisme.

“Studi lain menunjukkan bahwa orang yang optimis lebih banyak berolahraga, lebih sedikit merokok, dan makan makanan yang lebih sehat. Selain itu, mereka memiliki strategi yang lebih baik untuk mengatasi masalah dan mengalami lebih sedikit stres dalam situasi yang menantang. Semua faktor ini dapat berkontribusi pada kualitas tidur yang lebih baik, ” kata Weitzer, menyimpulkan status penelitian saat ini.

Adapun, penelitian selaras juga dilakukan pada  lebih dari 3.500 orang dengan rentang usia 32 tahun hingga 51 tahun, yang  berasal dari Birmingham, Alabama; Oakland, California; Chicago; dan Minneapolis. Penelitian ini dipimpin oleh Rosalba Hernandez, seorang profesor pekerjaan sosial di University of Illinois. Hal ini dipublikasikan oleh Science Daily pada tanggal 7 Agustus 2019.

Baca Juga : MotoGP dan Fisika, Apa Hubungannya?

“Hasil dari penelitian ini mengungkapkan hubungan yang signifikan antara optimisme dan berbagai karakteristik tidur yang dilaporkan sendiri setelah disesuaikan dengan beragam variabel, termasuk karakteristik sosial-demografis, kondisi kesehatan dan gejala depresi,” kata Hernandez.

Tingkat optimisme peserta diukur dengan memberikan  10 item survei,  yang meminta partisipan untuk menilai pada skala lima poin berbeda mengenai seberapa setuju dengan pernyataan positif seperti “Saya selalu optimis tentang masa depan saya” dan dengan kalimat negatif seperti “Saya hampir tidak mengharapkan hal-hal berjalan sesuai keinginan saya”. Dan skor pada survei berkisar dari 6 (paling tidak optimis) hingga 30 (paling optimis).

Hernandez dan rekannya menemukan bahwa pada setiap peningkatan standar deviasi dalam skor optimisme peserta, mereka memiliki peluang 78% lebih tinggi untuk melaporkan kualitas tidur yang sangat baik. Individu dengan tingkat optimisme yang lebih besar juga melaporkan bahwa mereka mendapatkan tidur yang cukup pada 6-9 jam setiap malam. Dan mereka 74% lebih memungkinkan tidak memiliki gejala insomnia dan mengalami lebih sedikit kantuk di siang hari.

“Kurangnya tidur yang sehat adalah masalah kesehatan masyarakat, karena kualitas tidur yang buruk dikaitkan dengan berbagai masalah kesehatan, termasuk risiko obesitas, hipertensi dan semua penyebab kematian yang lebih tinggi,” kata Hernandez. “Optimisme disposisional atau  keyakinan bahwa hal-hal positif akan terjadi di masa depan telah dijadikan sebagai aset psikologis yang menonjol untuk kelangsungan hidup bebas penyakit dan kesehatan yang unggul.”

Pandangan Ilmuwan Mengenai Sikap Optimis Dalam Mengurangi Gangguan Insomnia

Para ilmuwan secara umum bersikap skeptis bahwa  optimisme mempengaruhi pola tidur.  Akan tetapi,  mereka berhipotesis bahwa kepositifan dapat melindungi efek stres dengan meningkatnya adaptive coping, yang memungkinkan orang optimis dapat beristirahat dengan baik.

“Orang-orang optimis lebih cenderung terlibat dalam penanganan aktif yang berfokus pada masalah dan menafsirkan peristiwa-peristiwa yang menimbulkan stres dengan cara-cara yang lebih positif, mengurangi kekhawatiran dan pemikiran ruminatif ketika mereka tertidur dan sepanjang siklus tidur mereka,” kata Hernandez.

Temuan ini kemudian didukung oleh penelitian lanjutan oleh Kiarri N. Kershaw, Juned Siddique, Honghan Ning dan Donald M. Lloyd-Jones, d ari Northwestern University, kemudian Julia K. Boehm dari Universitas Chapman,  Laura D. Kubzansky dari Universitas Harvard,  dan Ana Diez-Roux dari Universitas Drexe. Penelitian-penelitian tersebut diterbitkan dalam jurnal Health Behavior and Policy Review pada 2015. Adapun untuk sampel untuk penelitiannya diambil dari pengembangan Risiko Arteri Koroner pada Remaja Dewasa, yang mengeksplorasi pengembangan dan perkembangan faktor risiko penyakit kardiovaskular dalam sampel A.S. orang dewasa kulit putih dan Afrika-Amerika non-Hispanik.

 

Editor : Tegar Tri Sawali