September 20, 2020

Omicron Indonesia

Aktual dan Terpercaya

Bagaimana Otak Merespon Terhadap Luka Hati?

Bagaimana Otak Merespon Terhadap Luka Hati?

Bandung, Omicron Indonesia – Dalam hidup, setiap manusia pernah melewati peristiwa yang tidak menyenangkan, baik itu perasaan terluka, rasa duka, penolakan, atau ditinggalkan. Rasa sakit ini tentu berbeda dengan cedera fisik, karena perasaan ini mungkin saja dapat tergugah kembali di kemudian hari. hati

Kedua sakit ini juga berbeda dalam segi penanganannya. Penawar untuk cedera fisik cenderung lebih mudah ditemui, lain halnya dengan rasa sakit hati yang bisa berlangsung hingga berlarut-larut. Namun, sering kali kita tidak sadar bahwa organ sentral pengontrol seluruh tubuh manusia yaitu otak juga berperan dalam hal ini. Lalu, bagaimana otak merespon peristiwa menyakitkan seperti ini hingga dapat mempengaruhi seseorang?

Tak jarang terdapat argumen yang sama terkait kedua jenis rasa sakit ini. Namun, rasa sakit sosial memiliki pengaruh dalam menghadirkan berbagai jenis penyakit fisik. Dilansir dari Psycological Science, pada beberapa tahun yang lalu sekelompok dokter di Universitas Johns Hopkins melaporkan terdapat kondisi jantung yang sangat mematikan. Ini disebabkan oleh tekanan emosi yang akut dan dikenal sebagai “stres kardiomiopati”. Ataupun yang lebih dikenal sebagai “sindrom patah hati”.

Penelitian Terkait Reaksi Otak Manusia Terhadap Rasa Nyeri

Terobosan lain juga datang dari studi fMRI yang dipimpin oleh Anggota APS, yaitu Naomi Eisenberger dari University of California, Los Angeles. Para peneliti menemukan area otak yang aktif selama nyeri fisik yaitu anterior cingulate cortex (ACC). Area yang berfungsi sebagai alarm untuk tekanan, dan ventral prefrontal cortex (RVPFC) yang mengaturnya. Keduanya merupakan bagian untuk menimbulkan rasa sakit sosial pada peserta yang dites dalam studi ini denga melibatkan permainan yang disebut Cyberball (permainan tangkapan secara virtual), sebagaimana yang dilansir oleh Brain Facts.

Studi mengenai rasa sakit sosial ini kemudian kian mendatangkan penelitian-penelitian lain setelahnya. Beberapa Psikolog mempercayai bahwa nyeri fisik memiliki dua komponen yang terpisah. Ada komponen sensorik, yang memberikan informasi dasar tentang kerusakan, seperti intensitas dan pusat rasa nyeri. Ada juga komponen afektif, yang merupakan interpretasi yang lebih kualitatif dari cedera, seperti seberapa menderita seseorang terhadap rasa sakit.

Baca Juga : Tidak Bermain Ponsel Sebelum Tidur Dapat Mengurangi Resiko Insomnia, Benarkah?

Penelitian Terkait Reaksi Otak Terhadap Luka Hati

Sekelompok peneliti, yang dipimpin oleh Ethan Kross dari University of Michigan mempercayai bahwa rasa sakit sosial mungkin memiliki komponen sensor tersembunyi yang belum ditemukan karena game seperti Cyberball tidak cukup. Sehingga, mereka merekrut 40 peserta tes dan membuat mereka mengalami cedera sosial yang jauh lebih intens, seperti memberi pemandangan mantan kekasih yang putus dari mereka.

Kross dan rekan membawa peserta tes ke dalam mesin pencitraan otak dan meminta mereka menyelesaikan dua tugas multi-part. Salah satunya adalah tugas sosial: Peserta melihat foto-foto mantan pasangan yang romantis sambil memikirkan perpisahan mereka, lalu melihat foto-foto seorang teman baik. Yang lain adalah tugas fisik: Peserta merasakan rangsangan yang sangat panas di lengan mereka, dan juga merasakan yang lain hanya hangat.

Seperti yang diharapkan dari penelitian sebelumnya, aktivitas di area yang berhubungan dengan nyeri afektif (seperti ACC) meningkat selama tugas yang lebih intens (melihat mantan dan merasakan panas yang kuat). Tetapi aktivitas di area yang berhubungan dengan nyeri fisik, seperti korteks somatosensori dan insula posterior dorsal, juga meningkat selama tugas ini. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rasa sakit sosial dan fisik memiliki lebih banyak kesamaan.

Beberapa peneliti merasa skeptis terhadap temuan mengenai rasa sakit fisik dan sosial yang sama persis. Sebagaimana rasa sakit sosial yang sebenarnya jauh lebih buruk dalam jangka panjang. Sebuah kelompok penelitian yang dipimpin oleh Zhansheng Chen di Universitas Purdue, menunjukkan perbedaan ini dalam serangkaian percobaan.

Terdapat dua orang yang melaporkan bahwa orang-orang yang mengingat lebih detail mengenai pengkhianatan masa lalu merasakan lebih banyak rasa sakit di masa sekarang dari pada cedera fisik di masa lalu. “Temuan kami menegaskan bahwa rasa sakit sosial mudah dihidupkan kembali, sedangkan rasa sakit fisik tidak,” para peneliti melaporkan dalam edisi 2008 dari Psychological Science.

 

 

 

Editor : Noer Ardiansyah Laksana