September 20, 2020

Omicron Indonesia

Aktual dan Terpercaya

Masker Kain atau Face Shield, Manakah Yang Lebih Efektif Lawan Corona?

Masker Kain atau Face Shield, Manakah Yang Lebih Efektif Lawan Corona?

Bandung, Omicron Indonesia – Penyebaran virus corona telah berlangsung hampir mencapai setengah tahun di berbagai penjuru bumi. Walaupun beberapa negara telah banyak melonggarkan upaya penguncian wilayah dan mulai memutuskan untuk menjalankan tatanan kehidupan normal yang baru. Namun virus zoonotik yang ditemukan di Cina pada akhir tahun 2019 ini, masih belum mengacungkan bendera putih. Artinya, jumlah jiwa yang terinfeksi virus ini masih masih bertambah setiap harinya. face shield

Berbicara mengenai kehidupan normal di tengah pandemik COVID-19, tak berarti penduduk bumi dapat beraktivitas sebagaimana kondisi tanpa penyebaran wabah. Vaksin untuk SARS-CoV-2 yang saat ini belum kunjung didistribusikan, menjadi sebuah peringatan bahwa siapapun memiliki potensi  terinfeksi virus tersebut.

Himbauan WHO Terkait Proteksi Kesehatan COVID-19

Jauh sebelum berbagai kebijakan diterbitkan, himbauan penggunaan masker wajah telah diumumkan oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) bagi semua elemen masyarakat. Tentu latar belakang pekerjaan menjadi pertimbangan terhadap penentuan jenis masker yang digunakan. Adapun saat menjalani kehidupan normal baru seperti di Indonesia, trend hidup sehat makin banyak dicuatkan oleh berbagai kalangan. Salah satunya adalah pencegahan tersebarnya virus melalui area wajah dengan penggunaan berbagai jenis penutup wajah.

Baik masker wajah berbahan kain ataupun face shield, tentu dipilih berdasarkan kebutuhan dan keadaan personal. Bagi sebagian orang,penggunaan masker kain cukup menganggu karena mengakibatkan kesulitan bernafas, dan meninggalkan masalah pada kulit wajah. Lain halnya dengan face shield yang dirasa lebih modis untuk digunakan dan memungkinkan orang lain untuk dapat melihat  ekspresi wajah dan membaca bibir, hal ini penting bagi orang-orang dengan gangguan panca indera seperti tuli atau tuna rungu.

Walaupun terlihat sedikit aneh saat menggunakan face shield, namun benda ini semakin populer di Asia.  Selain memudahkan untuk bernafas sehingga memungkinkan pengguna menjadi lebih nyaman, juga mudah digunakan kembali dalam waktu yang singkat setelah dicuci atau dibersihkan dengan disinfektan.   Namun, di balik keunggulan dan kekurangan masker kain dan face shield ini, banyak timbul pertanyaan tentang manakah yang lebih efektif dalam mencegah penyebaran virus.

Penelitian Ilmiah Terkait Penggunaan Face Shield

Dipublikasikan oleh SELF, seorang profesor penyakit dalam dan epidemiologi di Fakultas Kedokteran University of Iowa Carver College bernama Eli Perencevich, M.D., yang pada bulan April menerbitkan komentar di JAMA dengan mendukung  face shield, mengatakan pada Tim Reporter SELF, “kami merasa pelindung wajah jauh lebih efektif”.

Penelitian tentang  face shield memang belum banyak. Namun, dalam sebuah studi Journal of Occupational and Hygiene Environment 2014, para peneliti di Institut Nasional untuk Keselamatan dan Kesehatan Kerja menguji coba face shield pada robot pernafasan dan robot lain dapat menyebarkan virus flu dari batuk dengan jarak 18 inci. Face shield mencegah robot ini dari menghirup 96 persen virus dalam lima menit. Dalam tes tambahan, efektivitas face shiled bervariasi berdasarkan ukuran tetesan yang dikeluarkan, tetapi indikasi keseluruhan adalah bahwa face shield dapat melindungi pemakainya dari kuman orang lain.

Meskipun demikian, belum ada penelitian yang membahas apakah face shield dapat melindungi orang lain dari infeksi kita. Namun menurut Dr. Perencevich, face shield kemungkinan akan melindungi orang lain secara fisik, karena sesuatu yang keluar dari mulut kita akan terhalang oleh plastik pada face shield.

Baca Juga : Dikabarkan Bangkrut, Iflix Siap Dijual Ke Perusahaan China!

Skeptis Masyarakat Terhadap Face Shield

Saat menggunakan face shield dengan terbuka di bagian sisi dan bawah, membuat sebagian orang skeptis terhadap kemampuan memcegah virus. Tapi celah ini tidak menimbulkan banyak masalah. Penelitian menunjukkan bahwa virus korona biasanya menyebar melalui droplet besar yang dikeluarkan dari mulut atau hidung seseorang, yang ditarik ke bawah oleh gravitasi dalam radius enam kaki.

Namun, virus dengan partikel yang lebih kecil (aerosol) mampu melalui celah pada face shield ini. Akan tetapi, menurut David Fisman, M.D., seorang ahli epidemiologi penyakit menular di University of Toronto mengatakan bahwa transmisi virus melalui aerosol jarang terjadi. Adapun William Lindsley, Ph.D. , seorang bioengineer di Institut Nasional untuk Keselamatan dan Kesehatan Kerja, menyarankan penggunaan masker dan face shied secara bersamaan untuk menghindari potensi aerosol yang berisiko pada infeksi corona virus yang lebih kompleks.

Keraguan Terhadap Masker Kain

Sedangkan untuk masker kain, belum ada penelitian yang benar-benar mengkonfirmasi dapat menghalangi sejumlah besar virus agar tidak dikeluarkan ke udara. Sementara, masker kain mampu bekerja dalam melingdungi orang dari dari infeksi yang dikeluarkan oleh tubuh kita. Dan Annals of Internal Medicine menyimpulkan,  “meskipun tidak ada bukti langsung yang menunjukkan bahwa masker kain efektif dalam mengurangi transmisi SARS-CoV-2, bukti bahwa masker ini dapat mengurangi kontaminasi udara dan permukaan cukup meyakinkan dan cukup untuk menginformasikan keputusan kebijakan tentang penggunaannya dalam pandemi ini sambil menunggu penelitian lebih lanjut. ”

Jadi, masker kain tampaknya lebih baik dari pada tidak menggunakan sama sekali, dan CDC merekomendasikan bahwa masker ini perlu digunakan saat di tempat-tempat umum di mana jarak sosial sulit dihindari. Kurang efektif bukan berarti tidak efektif. Masker wajah “bukan rekomendasi yang buruk,” kata Dr. Perencevich.  “Hanya saja kupikir pelindung wajah lebih baik.”

 

 

Editor : Noer Ardiansyah Laksana