Peneliti Kembangkan Masker N95 yang Lebih Efektif

Peneliti Kembangkan Masker N95 yang Lebih Efektif

Bandung, Omicron Indonesia – Sejak akhir tahun 2019 lalu, virus SARS-CoV-2 telah menginfeksi jutaan jiwa di berbagai negara. Kondisi tersebut akhirnya memaksa tenaga medis untuk bekerja lebih ekstra dari sebelumnya. Alat Pelindung Diri (APD) khusus tentu menjadi hal yang sangat vital bagi mereka untuk menangani pasien COVID-19, seperti masker N95.

Tentunya, karena permintaan akan peralatan kesehatan yang kian meningkat. Memaksa para ilmuwan dan para ahli belomba-lomba, dalam mengembangkan tekonologi kesehatan yang ada.

Masker N95 yang selama ini diyakini dapat menangkal virus corona, ternyata masih memiliki kekurangan. Hal itu yang memotivasi para peneliti, untuk meningkatkan performa dari masker tersebut. Para peneliti dari Universitas Sains dan Teknologi King Abdullah (KAUST) di Arab Saudi, telah berhasil meningkatkan performa masker N95.

Penelitian Terkait Masker N95

Dalam studi yang dipublikasi di ACS Nano, para peneliti tersebut berhasil mengembangkan sebuah membran yang dapat meningkatkan performa masker N95. Membran tersebut merupakan, filter dengan  ukuran pori yang lebih kecil dari masker N95 pada umumnya.

Para peneliti mengklaim bahwa, membran yang dapat dibongkar pasang ini akan meningkatkan performa masker. Tentunya performa yang dimaksud adalah, memblokir virus corona agar tidak dapat melakukan infeksi kepada pengguna masker yang telah dilapisi membran ini.

Baca Juga : Benarkah Penggunaan Makser Dapat Menyebabkan Kerusakan Pada Wajah?

Masker N95 yang biasa digunakan saat ini hanya mampu menyaring sekitar 85% partikel yang lebih kecil dari kisaran 300 nm. Adapun ukuran SARS-CoV-2 berada dalam kisaran ukuran 65-125 nm yang jauh sangat kecil dari performa masker tersebut sehingga beberapa partikel virus masih dapat lolos. Masker bedah ini dimaksudkan untuk digunakan hanya satu kali pemakaian, namun karena ketersediaan masker ini terbatas, banyak petugas kesehatan yang menggunakannya berulang kali.

Untuk mengatasi masalah ini, Muhammad Mustafa Hussain dan rekannya mengembangkan filter  yang diyakini lebih efisien dalam menyaring ukuran partikel SARS-CoV-2  dan dapat diganti secara berkala pada masker N95 setiap setelah digunakan, sebagaimana yang dilansir oleh SCITECHDAILY pada Kamis (21/5/2020).

Tahapan Pembuatan Membran

Dalam membuat membran tersebut, para peneliti pertama-tama mengembangkan templat berpori berbasis silikon menggunakan litografi dan chemical etching. Templat tersebut diletakkandi atas film polimida dan menggunakan proses yang disebut reactive ion etching  untuk membuat pori-pori pada membran tersebut, dengan ukuran mulai dari 5-55 nm. Kemudian, lapisan tersebut dilepas untuk dapat dipasang pada masker N95.

Untuk memastikan bahwa membran nanopori tersebut memudahkan dalam bernapas, para peneliti mengukur laju aliran udara yang melalui pori-pori. Mereka menemukan bahwa untuk pori-pori yang lebih kecil dari 60 nm (dengan kata lain, lebih kecil dari SARS-CoV-2), pori-pori harus ditempatkan maksimum 330 nm dari satu sama lain untuk mencapai kemampuan bernapas yang baik.

Membran hidrofobik dapat kembali menjadi bersih karena droplet yang terlepas lapisan tersebut, mencegah pori-pori tersumbat oleh virus dan partikel lain. Proses disinfeksi virus ini menggunakan hidrogen peroksida yang diuapkan.  Adapun hidrogen peroksida (H2O2) adalah senyawa kimia yang merupakan kombinasi dari hidrogen dan air.

Baca Juga : New Normal Memaksa Manusia Bermain Dengan Virus Corona?

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *