May 30, 2020

Omicron Indonesia

Aktual dan Terpercaya

https://omicron.my.id/2020/05/15/benarkah-penggunaan-masker-menyebabkan-breakout-pada-wajah/

Tanpa Lockdown, Berhasilkah Swedia Terapkan Herd Immunity?

Bandung, Omicron Indonesia – Mewabahnya virus corona di berbagai belahan bumi telah berlangsung sejak akhir tahun 2019.  Perbedaan jumlah kasus infeksi COVID-19 di sejumlah negara, tentunya dipengaruhi oleh berbagai faktor.

Kondisi geofrafis, iklim, serta kultur masyarakat yang ada pada negara tersebut menjadi faktor pembeda utama terhadap jumlah kasus infeksi COVID-19. Physical distancing hingga penerapan lockdown ketat, masih menjadi solusi umum yang dilakukan mayoritas negara di dunia.

Lain halnya dengan yang terjadi di negara eropa dekat semenanjung Skandinavia, Swedia. Negara ini menjadi sorotan warga dunia karena tidak memberlakukan sistem penguncian wilayah lockdown untuk menghadapi virus corona. Dilansir oleh BBC News, bahwa kehidupan di negara tersebut berlangsung normal seperti biasanya. Sekolah, restoran, bar, serta tempat hiburan masih berjalan dan menjalankan bisnis seperti biasa.

Strategi Swedia Menghadapi COVID-19

Physical distancing, menjadi kunci utama bagi swedia menghadapi pandemik ini tanpa melakukan lockdwon. Berdasarkan poling yang dilakukan oleh Polling Novus, 9 dari 10 warga swedia sangat disiplin dalam menjaga jarak minimal 1 meter antar sesama. Hal tersebut dilakukan, ketika warga Swedia melakukan aktivitas diluar rumah.

Selain itu, penggunaan transportasi umum telah menurun secara signifikan. Sebagian besar warga negara  melakukan work from home, dan pemerintah juga telah melarang pertemuan lebih dari 50 orang dan kunjungan ke panti jompo.

Strategi yang didukung masyarakat Swedia dengan membiarkan ruang publik terbuka luas ini memicu perdebatan beberapa ilmuan yang berlangsung beberapa pekan. Mereka mempersoalkan bagaimana dampak gagasan ini akan menjerumuskan pendudukanya dan menyebabkan kematian, bahkan gagal dalam menjaga penyebaran COVID-19 tetap terkendali.

Kecaman Para Ahli

Keputusan Swedia  ini terjadi setelah tim Dr. Anders Tegnell, ahli epidemiologi negara menggunakan simulasi yang mengantisipasi dampak virus yang lebih terbatas dalam hubungannya dengan ukuran populasi dibandingkan dengan yang dilakukan oleh ilmuwan lain.

Dengan sistem lockdown yang longgar, negara dengan jumlah kasus COVID-19 terkonfirmasi sebanyak 32.172 ini bertujuan untuk melakukan sistem kekebalan kelompok atau herd immunity seperti yang diberitakan oleh CNN Internasional pada Kamis (21/5/2020).

Badan kesehatan umum  Swedia pada akhir bulan lalu memprediksikan sekitar sepertiga orang di Stockholm akan terinfeksi pada awal Mei. Namun, hal tersebut kemudian direvisi menjadi 26% setelah badan kesehatan tersebut mengakui kesalahan perhitungan.

Prof. Johan Giesecke, mantan kepala ilmuwan di European Centre for Disease Prevention and Control (ECDC), meyakini setidaknya separuh dari semua warga Stockholm akan terkena virus pada akhir bulan april. Bahkan bisa sampai setengah populasi Swedia, kata ahli matematika  Stockholm Tom Britton University. Hingga vaksin virus ini dapat dikembangkan, menurut ahli epidemiologi Emma Frans berpendapat kekebalan ini mungkin penting untuk Swedia.

“Kami belum tahu banyak tentang kekebalan,” kata wakil Dr.Tegnell. “Kita akan tahu lebih banyak karena lebih banyak orang yang diuji antibodinya,” tambahnya.

Namun, hingga akhir April lalu hanya 7,3% orang di Stockholm yang antibodinya berkembang untuk bisa melakukan herd immunity. Angkat tersebut tentu tidak jauh berbeda dengan negara-negara yang melakukan penguncian wilayah secara ketat dan presentase tersebut masih jauh di bawah 70-90% sehingga herd immunity dapat terbentuk di suatu populasi.

Terkait presentase tersebut, pada 24 April lalu sebelum angka tersebut muncul, kepala ahli epidemiologi Dr. Tegnell, mengatakan kepada radio BBC bahwa pihak berwenang yakin Stockholm memiliki “tingkat kekebalan antara 15 dan 20% dari populasi.”

Pelonggaran Lockdown Bukan Solusi yang Tepat

Nampaknya strategi yang dijalankan oleh Swedia, tidak membuahkan hasil yang maksimal. Pasalnya hinngga saat ini, tercatat angkat kasus positif COVID-19 di Swedia telah mencapai lebih dari 30 ribu kasus dengan jumlah kematian hampir mencapai 4 ribu jiwa.

Tentunya hal tersebut menjadi kabar buruk, sekaligus konfirmasi  bagi warga dunia bahwa Herd Imunnity yang diprediksi menjadi solusi yang tepat untuk melawan COVID-19. Bukanlah solusi yang layak dan baik untuk diterapkan, karena belum ada uji klinis yang dilakukan lebih lanjut serta resiko yang terlalu besar untuk ditanggung.