May 30, 2020

Omicron Indonesia

Aktual dan Terpercaya

Herd Immunity Sebagai Solusi Penyebaran COVID-19, tepatkah?

Herd Immunity Sebagai Solusi Penyebaran COVID-19, tepatkah?

Bandung, Omicron Indonesia – Pembatasan Sosial Bersekala Besar (PSBB) dan penguncian wilayah (lockdown) masih dilakukan oleh beberapa negara untuk mencegah penyebaran virus corona. Di sebagian wilayah, strategi tersebut cukup menunjukan hasil yang memuaskan. Seperti di Jawa Barat dan DKI Jakarta, yang telah menerapkan PSBB sejak 1 bulan yang lalu.

Namun, startegi tersebut nampaknya masih belum bisa mengendalikan penularan COVID-19 secara sempurna. Sehingga para ilmuwan dan pihak terkait, masih terus berusaha menemukan cara yang lebih jitu untuk mengendalikan penularan COVID-19.

Herd Immunity Sebagai Solusi?

Akhir-akhir ini, dunia digencarkan dengan adanya gagasan baru yaitu herd immunity yang disebut-sebut bisa menjadi solusi atas penyebaran virus corona. Dilansir oleh CNN Indonesia pada Jumat (03/04/2020), konsep herd immunity diperkenalkan secara tidak resmi oleh negara Inggris. Adapun dua negera lain asal eropa yang juga melirik konsep ini yaitu Belanda dan Swedia.

Herd immunity adalah konsep yang mengandalkan kekebalan tubuh terhadap virus oleh populasi. Artinya, kekebalan ini dibangun melalui penyebaran virus secara alami yang akan menginfeksi masyarakat. Dengan kekebalan ini, diyakinin oleh sebagian negara virus akan sulit menemukan tempat bersarang yang respon terhadap penyebaran virus. Sedangkan menurut para ahli, untuk membentuk kelompok yang memiliki kekebalan ini dibutuhkan 60-70 persen jiwa terinfeksi virus.

Peringatan WHO Terhadap Wacana Tersebut

Namun, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperingatkan bahwa usaha dalam mencapai strategi ini adalah hal yang berbahaya.  Dirilis oleh Mirror, Dr. Mike Ryan, direktur eksekutif program kedaruratan kesehatan WHO, mengatakan pada konferensi pers di Geneva bahwa konsep tersebut bukan kebijakan yang baik.

Beliau berkata: “Manusia bukanlah sekumpulan ternak, dan konsep herd immunity umumnya dicadangkan untuk menghitung berapa banyak orang yang perlu divaksinasi dan populasi untuk membangkitkan efek itu. Ini adalah penyakit serius, ini musuh publik nomor satu, kami telah mengatakannya berulang-ulang.”

Baca Juga : PSBB di Jawa Barat Dilanjutkan Mulai Hari Ini

Kecaman ini didasari dengan fakta bahwa belum adanya bukti yang menjelaskan bagaimana sistem imun dapat menghadapi virus ini. Dipublikasikan oleh The Hindu, Dr. Robert D. Kirkcaldy dari Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat menulis dalam  Jurnal American Medical Association (JAMA), mengatakan bahwa hubungan antara respon antibodi dan peningkatan klinis masih belum jelas.

Pertimbangan lainnya adalah masih banyak rumah sakit di beberapa negara, seperti Indonesia yang masih kewalahan dalam menangani pasien terinfeksi. Jika herd immunity ini diberlakukan, tentu perlu ada penanganan yang kesiapannya jauh lebih baik dari pada saat ini.

Bahaya Herd Immunity

Kabar yang bereda di masyarakat saat ini adalah pasien yang berhasil pulih dari infeksi virus corona, tidak mungkin akan terinfeksi virus tersebut untuk kedua kalinya. Padahal, Organisasi Kesehatan Dunia telah memperingatkan agar tidak mengeluarkan immunity passport  kepada orang-orang yang telah pulih dari Covid-19. Karena tidak ada bukti yang menjelaskan bahwa mereka akan terlindungi dari infeksi kedua, sebagaimana yang dilansir oleh Guardian.

Dalam catatan ilmiah singkat WHO mengatakan, “Pada titik pandemi ini, tidak ada cukup bukti tentang efektivitas kekebalan yang dimediasi antibodi untuk menjamin keakuratan immunity passport atau risk-free certificate”.

Immunity passport  ini dapat menimbulkan risiko kesehatan dengan memberikan jaminan perlindungan yang tidak dapat dibenarkan kepada  individu dan komunitas, sehingga masyarakat berasumsi bahwa mereka akan kebal terhadap infeksi untuk kedua kalinya dan dapat mengabaikan saran kesahatan masyarakat. Hal ini juga diperkuat dengan adanya laporan kepada WHO dari China dan Korea Selatan bahwa pasien yang tampaknya telah pulih dari infeksi virus ini mendapatkan hasil yang positif saat dilakukan tes lagi.