May 30, 2020

Omicron Indonesia

Aktual dan Terpercaya

Benarkah Penggunaan Masker Menyebabkan Breakout Pada Wajah?

Benarkah Penggunaan Masker Menyebabkan Breakout Pada Wajah?

Bandung, Omicron Indonesia – Pada 19 Maret 2020 lalu, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) resmi mempublikasikan edaran terkait penggunaan rasional personal protective equipment (PPE). Langkah tersebut dilakukan, sebagai salah satu upaya untuk memerangi COVID-19 yang semakin mengkhawatirkan dunia.

Mengenai PPE ini, pada bulan lalu (6/4/2020) WHO juga telah memperbaharui himbauan protokol kesehatan dengan menerapkan “masker untuk semua” dalam mencegah virus corona semakin meluas . Masyarakat umum dianjurkan untuk memakai masker kain, hal tersebut bertujuan untuk menghindari penularan COVID-19 ditempat umum.

Himbauan ini tentu diindahkan oleh sebagian masyarakat, terbukti dengan ramai-nya masyarakat menggunakan masker kain ketika beraktivitas diluar rumah. Namun, tanpa disadari penggunaan masker kain yang tidak sesuai aturan dapat memicu masalah kesehatan pada kulit wajah.

Terutama bagi mereka yang harus menggunakannya selama hari kerja penuh atau seseorang dengan kondisi kulit yang mendasarinya seperti jerawat atau rosacea (baca:  kondisi kulit  sensitif yang meradang ditandai dengan kemerahan di bagian pipi, hidung, dagu, dahi atau kelopak mata).

Masker Dapat Menyebabkan Kerusakan Pada Kulit

Dirilis oleh CNBC pada hari Rabu (13/5/2020) lalu, seorang profesor dermatologi di Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas George Washington bernama Adam Friedman mengatakan dia melihat gejala iritasi kulit  dari peradangan dengan ruam merah yang memerah hingga sekelompok jerawat kecil di sekitar hidung dan mulut yang disebabkan oleh  penutup wajah.

“Saat nafas, keringat, dan minyak wajah anda berjumpa dan terperangkap bersamaan, anda akan berada di lingkungan yang panas dan lembab di bawah masker wajah yang anda gunakan. Ini sering mengarah pada risiko iritasi yang lebih besar, ”kata Friedman.

Masker wajah yang dimaksud bukan hanya masker berbahan dasar kain, namun masker medis dan N95 juga memiliki pengaruh yang serupa pada kerusakan kulit area wajah. Dipublikasikan oleh sebuah majalah kecantikan, ALLURE, bahwa Bruce A. Brod,  seorang dokter kulit bersertifikat  yang berasal dari American Academy of Dermatology mengakatakan “Masker N95 memiliki risiko yang sangat tinggi untuk cedera karena penggunaannya ketat pada wajah. Cedera bisa terjadi sebagai akibat gesekan dan akumulasi uap air di bawah masker”.

Baca Juga : Vitamin D, Bantu Pasien COVID-19 Sembuh

Sebuah studi yang diterbitkan dalam Journal of American Academy of Dermatology, melaporkan tingkat kerusakan kulit naik 97 persen akibat langkah pencegahan infeksi di kalangan pekerja medis di Hubei, Cina. Lebih dari 70 persen pekerja tersebut mengalami kulit kering; dan 52,5 persen merasakan kulit gatal. Lebih dari 60 persen mencatat deskuamasi (kulit mengelupas); 49,4 persen mengalami eritema (kemerahan karena pembuluh darah pecah); dan 32,9 persen memiliki papula (jerawat) di persebrangan hidung, tempat masker diletakkan, adalah area iritasi yang paling umum.

Carrie Kovarik, seorang dokter kulit bersertifikasi mengatakan “Masalah yang terkait dengan masker (termasuk masker non-N95) seperti jerawat disebabkan oleh oklusi masker pada kulit, di mana folikel rambut tersumbat, kontak dermatitis yang disebabkan oleh bahan di masker, dermatitis iritan pada titik-titik tekanan seperti hidung dan telinga, dan dermatitis terkait kelembaban di sekitar mulut mulai dari napas atau air liur”.

Langkah Untuk Menjaga Kulit Wajah Tetap Sehat

Untuk menghindari kerusakan kulit wajah, berikut beberapa langkah agar kesehatan kulit tetap terjaga walaupun penggunaan masker dilkukan secara berkelanjutan.

  1. Pilih bahan Masker yang lembut dan memudahkan bernafas

Noelani, seorang dokter kulit dan direktur dermatologi kosmetik di Mount Sinai West di New York. mengatakan “Pilih masker yang keketatannya pas dan aman dengan kain tenun yang rapat. Anda pada dasarnya menginginkan sesuatu yang lembut, alami dan bernafas seperti katun 100%. Tutorial pembuatan masker kain ini juga terdapat di situs web CDC  dengan menyarankan penggunaan cotton”.

Masker berbahan sintetis seperti poliester, nilon, dan rayon akan cenderung cenderung membuat berkeringat, yang akan melembabkan kain sehingga dapat menyebabkan iritasi pada kulit wajah.

  1. Jaga kelembaban skin barrier pada wajah

Langkah ini bisa dilakukan dengan menggunakan pelembab wajah, sebelum menggunakan masker. Hal ini, bertujuan untuk untuk mengurangi gesekan antara kulit dan masker.

“Ketika wajah anda terkikis akibat gesekan, lapisan atas kulit anda akan melepaskan air. Akibatnya, kulit Anda kehilangan kelembaban alami, sementara itu perlindungan kulit yang dilakukan oleh skin barrier menjadi  kurang efektif terhadap masker wajah yang digunakan,” jelas Friedman.

Menurut Freidman, gesekan ini mengakibatkan kulit kering dan pecah-pecah yang kemudian berkembang menjadi peradangan merah. Produk pelembab yang sifatnya nonkomedogenik baik digunakan karena mengandung bahan-bahan yang tidak akan menyumbat pori-pori atau menyebabkan timbulnya jerawat.

Sedangkan, Dhaval Bhanusali merekomendasikan penggunaan produk yang dapat membantu melindungi barrier, seperti Desitin  yang lebih dikenal sebagai diaper rash cream. “Ini mengandung zinc yang bagus untuk perlindungan barrier,” katanya.

  1. Tidak Ber-makeup

Para ahli menyarankan untuk menghindari makeup, seperti foundation dan concealer, serta barang-barang perawatan kulit lainnya yang dapat menyebabkan iritasi. Jika makeup sifatnya tidak non-genetika, dapat menyumbat pori-pori dan menyebabkan kulit menjadi berjerawat. Dengan tidak memakai makeup akan membantu kulit bernafas lebih baik. Mencuci muka sebelum dan sesudah menggunakan masker juga dapat menghindari iritasi.