May 30, 2020

Omicron Indonesia

Aktual dan Terpercaya

Vitamin D, Menjadi Senjata Ampuh untuk Melawan COVID-19!

Vitamin D, Bantu Pasien COVID-19 untuk Melakukan Recovery.

Bandung, Omicron Indonesia Corona Virus Desease 2019 atau lebih familiar dengan sebutan COVID-19 ini merupakan penyakit yang disebabkan infeksi virus corona. Hingga saat ini, kematian akibat COVID-19 masih menjadi PR beberapa pemimpin negara di dunia untuk dapat dikendalikan. Hingga hari ini (13/5/2020) data yang dilansir oleh WorldOmeters, menunjukan jumlah kematian akibat COVID-19 mencapai hampir 300 ribu jiwa.

Faktor Utama Kematian Akibat COVID-19

Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), faktor utama dari kasus kematian yang terjadi adalah umur dan riwayat penyakit bawaan. Adapun pemulihan pasien yang diyakini oleh masyarakat adalah bergantung pada kekuatan sistem imun melawan virus SARS-CoV-2 ini.

Hal seiras juga dilontarkan oleh Prof. dr.  Ascobat Gani, MPH, DrPH, seorang Guru Besar Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia (FKM UI). Dipublikasikan oleh Detik Health pada Kamis (3/4/2020), Prof. Ascobat Gani mengatakan ada tiga faktor yang menjadi akibat tingginya kematian pasien terjangkit COVID-19 di Inonesia. “Satu, pelayanan kita lemah bisa jadi. Kedua, orang datang pada tingkat keparahan yang sudah tinggi. Ketiga, ada penyakit penyerta,” katanya.

Penelitian Terbaru Terkait Kasus Kematian COVID-19

Sementara itu, dilansir dari Medical Press, seorang profesor bidang Teknik Biomedis di McCormick School of Engineering Northwestern  bernama Vadim Backman. Beliau mengatakan bahwa, faktor umur dan kualitas pelayanan kesehatan bukanlah hal utama yang menyebabkan kasus kematian akibat COVID-19 semakin meningkat.

“Tidak satu pun dari faktor-faktor ini yang tampaknya memainkan peran penting,” kata Backman. Mengingat bahwa, Italia pun merupakan salah satu negara dengan tingkat kematian pasien COVID-19 yang tinggi. Profesor tersebut juga menambahkan bahwa “Sistem perawatan kesehatan di Italia utara adalah salah satu yang terbaik di dunia”.

Berangkat dari keragu-raguannya tersebut, Backman dan timnya terinspirasi untuk melakukan penelitian mengenai hubungan antara kekurangan vitamin D yang parah dengan tingkat kematian akibat COVID-19. Penelitian dilakukan dengan mempelajari data global dari pandemi virus corona  dan menganalisis data statistik dari rumah sakit dan klinik dari sejumlah negara besar seperti Jerman, China, dan Italia.

Para peneliti mencatat bahwa pasien dari negara-negara dengan tingkat kematian COVID-19 yang tinggi, seperti Italia, Spanyol dan Inggris. Memiliki tingkat vitamin D yang lebih rendah dibandingkan dengan pasien di negara-negara yang tidak terkena dampak parah.

Dengan menganalisis data pasien yang tersedia untuk umum dari seluruh dunia, Backman dan timnya menemukan korelasi yang kuat antara kadar vitamin D dan cytokine storm (baca:  suatu kondisi peradangan yang disebabkan oleh sistem kekebalan yang terlalu aktif) serta korelasi antara kekurangan vitamin D dan kematian.

Cytokine storm dapat sangat merusak paru-paru dan menyebabkan sindrom gangguan pernapasan akut dan kematian pada pasien. Inilah yang tampaknya membunuh sebagian besar pasien COVID-19, bukan penghancuran paru-paru oleh virus itu sendiri,” kata Daneshkhah, rekan penelitian Vadim Backman.

Hubungan Antara Vitamin D dengan COVID-19

Dari penelitian inilah, Backman percaya bahwa vitamin D memainkan peran utama. Vitamin D tidak hanya meningkatkan sistem kekebalan tubuh bawaan, tetapi juga mencegah sistem kekebalan tubuh menjadi terlalu aktif. Hal ini berarti, memiliki kadar vitamin D yang sehat  (cukup) dapat melindungi pasien dari komplikasi parah, termasuk kematian dari COVID-19. “Vitamin D tidak akan mencegah pasien dari tertular virus, tetapi dapat mengurangi komplikasi dan mencegah kematian pada mereka yang terinfeksi,” kata Backman.

Namun, menurut Backman perlu ada penelitian lebih lanjut untuk mengetahui berapa dosis vitamin yang efektif digunakan untuk menangani komplikasi COVID-19. “Kekurangan vitamin D berbahaya, dan dapat dengan mudah ditangani dengan suplemen yang tepat. Ini mungkin upaya lain untuk membantu melindungi populasi yang rentan, seperti pasien Afrika-Amerika dan pasien lanjut usia, yang memiliki prevalensi vitamin D kekurangan,” jelas Backman.

Penelitian Sejenis yang Menunjukan Hasil yang Sama

Dirilis oleh SciTechDaily, sebuah penelitian lain yang dipimpin oleh Dr. Lee Smith dari Anglia Ruskin University dan Mr. Petre Cristian Ilie, seorang ahli urologi dari Queen Elizabeth Hospital King’s Lynn NHS Foundation Trust juga menemukan hubungan antara tingkat rata-rata vitamin D yang rendah dan jumlah kasus COVID-19 yang tinggi dan tingkat kematian di 20 negara Eropa.

Penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Aging Clinical and Experimental Research ini melaporkan bahwa vitamin D memodulasi respon sel darah putih, mencegahnya lepasnya  terlalu banyak sitokin inflamasi. Virus COVID-19 diketahui menyebabkan kelebihan sitokin proinflamasi.

Studi baru menunjukkan bahwa negara Italia dan Spanyol memiliki tingkat vitamin D rata-rata yang lebih rendah dibanding negara Eropa utara lainnya. Hal ini disebakan oleh para orang tua, menghindari sinar matahari yang kuat. Sementara pigmentasi kulit juga mengurangi sintesis vitamin D alami.

Tingkat rata-rata tertinggi vitamin D ditemukan di Eropa utara, karena konsumsi minyak ikan cod dan suplemen yang mengandung vitamin tersebut. Negara-negara Skandinavia seperti Iceland, Denmark, Finlandia, memiliki jumlah kasus COVID-19 rendah dan angka recovery yang tinggi di Eropa.

Apa yang Harus dilakukan Agar Terhinda dari COVID-19?

Dengan dilakukannya studi-studi ini, akan mengarah pada munculnya inovasi-inovasi pengobatan untuk penanganan COVID-19 ini. Juga bukan berarti bahwa setiap orang saat ini harus berlomba untuk menimbun suplemen.

Omicronians dapat memanfaatkan cuaca iklim di Indonesia yang bersifat tropis, sehingga kemungkinan matahari muncul akan jauh lebih besar. Anda dapat berjemur dihalaman rumah atau balok rumah, setiap pagi mulai dari jam 08.00-10.00.

Mengingat beberapa penelitian sebelumnya mengatakan bahwa, matahari di periode jam tersebut memiliki tingkat vitamin D yang lebih besar. Selain itu, Omicronians juga dapat rutin mengkonsumsi makanan yang memiliki tingkat vitamin D yang cukup tinggi.