May 30, 2020

Omicron Indonesia

Aktual dan Terpercaya

Kacamata Pintar Menjadi Senjata Untuk Memerangi COVID-19

Kacamata Pintar Dimanfaatkan Untuk Memerangi COVID-19

Bandung, Omicron Indonesia – COVID-19 masih menjadi headline news diberbagai media informasi, baik dalam maupun luar negeri. Data yang dilansir oleh WorldOmeters, mencatat bahwa hingga saat ini kasus positif COVID-19 telah mencapai lebih dari 4 juta kasus.

Suhu badan menjadi salah satu parameter yang paling fundamental, untuk mendeteksi pasien yang terinfeksi COVID-19. Dilansir dari Medical News Today bahwa normalnya suhu tubuh orang dewasa berkisar antara 36,5-37,5 derajat celcius.

Saat tubuh memiliki suhu 38 derajat celcius sudah digolongkan sebagai demam, kemudian lebih dari 39,5 derajat celcius dikatakan demam tinggi. Tak heran bila di area publik seperti halnya di Tanah Air, pengecekan suhu badan menjadi giat dilakukan.

Namun, di tengah kondisi karantina yang masih diupayakan berbagai negara akibat merebaknya wabah virus corona sejak beberapa bulan lalu. Tidak menyurutkan semangat dan ambisi warga dunia dalam memerangi pandemi ini. Berbagai macam upaya terus dilakukan, salah satunya di bidang pengembangan teknologi.

Pengembangan Kacamata Pintar

Salah satu perusahaan start-up asal negeri tirai bambu, yaitu Rokid inc. Berhasil mengembangkan kacamata pintar, yang memanfaatkan teknologi Augmented Reality (AR) dan Artificial Intelligence (AI). Dirilis dari SKY NEWS bahwa kacamata ini memungkinkan penggunanya untuk dapat mengukur suhu tubuh seseorang yang mungkin terjangkit COVID-19.

Dilansir dari News Week, kacamata pintar yang menyerupai kacamata hitam normal ini telah digunakan di provinsi Zhejiang China. Seperti oleh staf keamanan di Taman Hongyuan, bagian dari Cagar Alam Rawa Xixi di Kota Hangzhou jugs oleh polisi jalan raya di kota Hangzhou, Huzhou, dan Quzhou.

Menurut Rokid, kacamata ini dilengkapi dengan sensor inframerah, sehingga memungkinkan kacamata ini untuk mengechek suhu objek yg ada disekitarnya. Selain itu, kacamata ini dilengkapi dengan kamera yang memungkinkan kacamata ini melakukan face recognition dan melakukan digital record.

Rokid Inc juga mengembangkan perangkat lunak yang dimanfaatkan untuk, merekam warga mana saja yang telah diperiksa oleh kacamata pintar ini. Nantinya, warga yang telah diperiksa oleh kacamata ini akan diberi label kesehatan sesuai dengan tingkat kesehatan mereka.

Perusahaan yang memiliki dana $ 158,3 juta ini juga mengandalkan pengawasan negara dan jaringan big data. Big data dimanfaatkan untuk memantau, menampung, dan melacak seluruh warga negara RRC.

Pada 16 Maret lalu, Rokid Inc membagikan posting-an blognya ke platform Facebook yang mengatakan bahwa sistem kacamata ini dapat mengukur suhu tubuh dengan jarak aman sekitar 2 meter (6,6 kaki) dengan menghindari kontak fisik. Perangkat ini dapat dengan cepat melakukan pemindaian dengan akurasi tinggi dalam waktu 0,5 detik, mengungguli termometer infrared yang menghabiskan waktu 2-3 detik saat pengecekannya.

Permintaan Alat yang Melonjak

Menurut wakil presiden perusahaan, Xiang Wenjie, permintaan kacamata ini meningkat dalam dua minggu. Walaupun perangkat ini masih akan dikembangkan untuk dapat mengambil beberapa pembacaan suhu secara bersamaan, namun kacamata T1 ini telah terjual seribu unit kepada pemerintah, kawasan industri dan sekolah.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengatakan pemindaian termal adalah metode yang efektif untuk mendeteksi orang dengan suhu tubuh yang lebih tinggi dari normal, salah satu gejala COVID-19.

Inovasi ini tentunya dapat menjadi upaya baru dalam menghindari penyebaran virus corona semakin meluas dan mengukur suhu dari jarak jauh tentu menjadi prinsip utamanya.