May 30, 2020

Omicron Indonesia

Aktual dan Terpercaya

“Masker Untuk Semua”: Efektifkah Masker Kain Cegah Virus Corona?

“Masker Untuk Semua”: Efektifkah Masker Kain Cegah Virus Corona?

Bandung, Omicron Indonesia – Seiring dengan semakin meningkatnya kasus COVID-19 di beberapa negara,  menyulut adanya pembaharuan strategi untuk memutus mata rantai COVID-19 ini. Salah satunya adalah himbauan yang dikeluarkan oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) tentang penggunaan masker saat wabah COVID-19 ini berlangsung.

Awalnya WHO menyarankan bahwa, masker hanya diperuntukkan bagi para pekerja medis dan pasien terinfeksi saja. Kemudian, jenis masker yang disarankan adalah masker bedah N95 atau sejenisnya. Namun pada tanggal 6 April 2020, WHO mengeluarkan himbauan baru yang mengharuskan seluruh masyarakat menggunakan masker berbahan kain apabila bepergian keluar rumah.

Senada dengan WHO, Centers for Disease Control AS juga merekomendasikan agar masyarakat umum memakai cloth mask untuk mengurangi resiko tertular COVID-19 di tempat umum.

Pada konferensi pers (5/4/2020) lalu yang dilansir oleh CNCB Indonesia, Achmad Yurianto sebagai Juru bicara pemerintah dalam penanganan COVID-19 mengujar bahwa Indonesia akan menjalankan “masker untuk semua” seperti yang direkomendasikan oleh WHO. Masker bedah dan N95 hanya untuk tenaga medis, sedangkan masyarakat umum menggunakan masker kain.  Adanya kasus positif covid-19 tanpa gejala juga semakin menekan himbauan ini.

Benarkah Masker Kain Efektif Menahan Virus Corona?

Di balik himbauan tersebut, pertanyaan mengenai “apakah masker berbahan kain ini dapat menjegal virus corona bagi orang sehat?” masih banyak tertuai di masyarakat. Dilema ini kian diperkuat dengan pertimbangan himbauan WHO yang pada awalnya tidak mengharuskan masyarakat sehat menggunakan cloth mask.

Dirilis oleh SCITECHDAILY (5/5/2020), Dr. Raina MacIntyre, seorang profesor global biosecurity yang menekuni bidang penyakit menular seperti COVID-19 ini mengatakan. Perubahan himbauan yang dilakukan oleh WHO dilatarbelakangi oleh beberapa alasan.

Pertama, dengan adanya lebih banyak bukti bahwa orang benar-benar dapat menyebarkan virus tanpa menunjukkan gejala. Kedua, CDC tidak ingin orang menimbun alat pelindung wajah ini kemudian mengasingkannya dari petugas kesehatan.

Adapun gagasan mengenai bagaimana virus ini menyebar di udara, menurut Maclntyre hal tersebut adalah paradigma yang sepenuhnya buatan. “Katakan saja pada orang untuk berdiri tiga kaki atau enam kaki dari orang lain”, tambahnya. Sedangkan menurut Donald Milton, seorang profesor kesehatan lingkungan yang mempelajari infeksi di udara bahwa memberi jarak enam kaki lebih baik dari pada saling berdekatan, tetapi semakin jauh semakin baik.

Ukuran SARS-CoV-2 sangat kecil, terlalu kecil untuk dapat ditahan oleh kain pada umumnya. Namun, virus ini  sering bergerak dalam bentuk droplet yang ukurannya jauh lebih besar dari kain. Pelindung wajah ini terbuat dari serat yang rapat. Hal ini diperkuat  oleh pernyataan Ketua Tim Pakar Gugus Tugas Penanganan COVID-19, Wiku Adisasmito yang mengatakan bahwa kurang lebih 90% penularan kasus Covid-19 penyebarannya melalui droplet. Maka demikian, instrumen pelindung ini sangat penting untuk digunakan.

Hingga hari ini belum ada studi terkontrol yang besar mengenai masker kain ini, tetapi hal ini dapat ditunjukkan oleh sebagian kecil penelitian yang kebanyakan mengatakan bahwa masker kain lebih baik dari pada tidak memakai apapun, dan yang dilakukan oleh masker kain adalah menghentikan droplet yang lebih besar.

Penelitian Terbaru

Adapun penelitian pada tahun 2013 menguji virus yang seukuran dengan SARS-CoV-2 terhadap bahan yang berbeda-beda. Sarung antimikroba dapat memblokir sekitar 68% virus, adapun kain penyedot debu (yang ada pada vacum cleaner) dapat memblokir sekitar 85% atau lebih. Sebuah studi baru-baru ini, menemukan bahwa dua lapis katun berkualitas tinggi. Dengan jumlah benang 180 atau lebih yang terbaik mampu menghentikan sekitar 79% partikel yang melewatinya. Dan partikel-partikel itu sedikit lebih besar dari SARS-CoV-2, namun ukuran droplet yang mengadung virus tersebut masih dapat dihindari.

Walaupun dengan penggunaan masker kain ini dapat membantu penyebaran virus corona melalui droplet, tentu bukan berarti himbauan yang lain seperti physical distancing dan hand washing menjadi diabaikan. Terkait penggunaan jenis masker, Dr. Shan Soe-Lin, seorang ahli dalam kesehatan global menekankan pentingnya lapisan pada masker. Dan CDC merekomendasikan dua lapis kain katun 100% yang padat digunakan pada masker kain oleh masyarakat sehat.